SANGATTA – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mewujudkan layanan pendidikan yang ramah bagi anak penyandang disabilitas terus menunjukkan kemajuan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim resmi menuntaskan rangkaian sosialisasi Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang digelar di lima zona wilayah.
Kegiatan ini menyasar ratusan kepala sekolah, pengawas, dan tenaga pendidik yang tersebar di zona Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Rantau Pulung, Bengalon serta Teluk Pandan. Melalui sosialisasi ini, Disdikbud menekankan pentingnya kesiapan sekolah dalam menyediakan akses pendidikan yang setara dan berkeadilan.
Kepala Disdikbud Kutim Mulyono melalui tim ULD menjelaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi fondasi bagi penguatan sekolah inklusif di daerah.
“Kami ingin memastikan setiap sekolah memahami bagaimana memberikan layanan yang layak bagi anak berkebutuhan khusus, baik dari sisi fasilitas maupun pendekatan pembelajaran,” terang perwakilan Disdikbud pada Rabu (12/11).
Sosialisasi ULD tidak hanya menyoroti aspek teknis, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir tenaga pendidik mengenai pentingnya penerimaan dan pemenuhan hak belajar bagi seluruh anak. Peserta diberikan materi mengenai identifikasi kebutuhan khusus, metode pembelajaran adaptif, serta penyediaan akomodasi yang tepat bagi siswa penyandang disabilitas.
Program ini juga menjadi bagian dari pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan, yang mewajibkan pemerintah daerah menjamin akses pendidikan untuk semua anak tanpa diskriminasi. Disdikbud menegaskan bahwa implementasi ULD di sekolah-sekolah Kutim harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru.
Salah satu peserta sosialisasi, Abdul Muzh’af Suriadi Waka Kurikulum SMP BP Daarussholah Sangatta Selatan, mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru terkait cara menangani siswa dengan kebutuhan khusus.
“Pendekatan pembelajaran ternyata sangat variatif. Kami jadi lebih memahami bagaimana menyesuaikan metode mengajar agar semua siswa bisa mengikuti pelajaran,” tuturnya.
Dengan rampungnya sosialisasi di lima zona, pemerintah daerah berharap sekolah-sekolah di Kutim semakin siap bertransformasi menjadi lingkungan belajar yang inklusif dan ramah disabilitas. Disdikbud menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pendampingan dan evaluasi agar layanan pendidikan inklusif dapat berjalan lebih optimal.
Program ini sekaligus memperkuat arah kebijakan Pemkab Kutim yang menempatkan akses pendidikan setara sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah. (Adv)





