BALIKPAPAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah Kalimantan Timur akan terus berlangsung hingga September, bahkan berpotensi berlanjut hingga awal Oktober 2025.
Kondisi ini disampaikan oleh Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Kukuh Ribudiyanto, dalam agenda “Kaltim Siaga Karhutla” yang digelar pada Jumat (1/8/2025) di Balikpapan.
Menurut Kukuh, sejumlah wilayah seperti Paser, Kutai Kartanegara, dan sebagian Kutai Timur sudah mengalami curah hujan yang sangat minim dalam 7–10 hari terakhir, menandai awal kemarau di daerah tersebut. Akibatnya, titik panas mulai bermunculan, meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Minimnya curah hujan menyebabkan munculnya hotspot di beberapa wilayah. Ini harus menjadi perhatian karena risiko karhutla cukup tinggi,” jelas Kukuh.
BMKG menyebut bahwa peluang hujan lokal masih ada, namun dengan intensitas yang sangat terbatas dan tidak cukup untuk meredam potensi kebakaran. Oleh karena itu, masyarakat dan pemerintah daerah diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi.
Pihak BMKG juga mengimbau agar tidak melakukan aktivitas pembakaran terbuka, baik untuk pertanian maupun pembersihan lahan.